Photo by Ken Cheong

Gugurnya Raksasa Lodrapati

I Nyoman Arsana, active -, 2 works

Painted in Batuan - Dated 2005

Raksasa Lodrapati ingin menghancurkan swarga. Karena Dewa Siwa sedang beryoga, para Dewata mengadakan rapat dan tidak menemukan cara untuk mengalahkan sang raksasa. Satu-satunya yang bisa mengalahkan adalah putra Siwa yang berkepala gajah (pada saati itu belum lahir). Karena Siwa sedang beryoga, para Dewa tidak bisa memberitahukannya, tidak ada yang bisa membangunkannya. Dewa Smara dan Dewi Ratih ditugaskan untuk membangunkan Siwa dari yoganya. Berbagai cara sudah dicoba dengan menggoyang badan dewa Siwa, tarian dasb. Kemudian dipanahlah Dewa Siwa dengan panah Dewa smara. Begitu terbangun, mengetahui yoganya diganggu, dengan kemarahan, terbakarlah Dewa Smara dan Dewi Ratih. Kemudian Bagawan Narada mengusulkan untuk menghidupkan kembali, karena kalau Smara dan Ratih tidak hidup, di dunia tidak akan ada kehidupan. Maka dihidupkanlah kembali Smara dan Ratih dan dikutuk, ditugaskan untuk memberikan kehidupan percintaan di maya pada (dunia). Begitu dihidupkan, Smara langsung menyambar Dewa Siwa sehingga dia sangat ingin bertemu dengan istrinya Dewi Uma. Pertemuan Siwa dan Uma menyebabkan kehamilah Uma. Dewa Indra dan Narada sekarang bingung mencari jalan agar anak yang dilahirkan Uma bisa berkepala gajah. Indra berkunjung ke taman Dewi Uma dengan membawa Gajah Erawana. Sampai di taman, Dewi Uma sangat terkejut melihat gajah itu. Saking terkejutnya, sehingga mempengaruhi kehamilannya dan lahirlah putranya berkepala gajah yang diberi nama Dewa Ganapati (Ganesha). Akhirnya Raksasa Lodrapati bisa dikalahkan oleh Dewa Gana dengan gadingnya.
48.5 cm x 65 cm
Paper