Photo by Ken Cheong

Darma Suarmi frees Sunangkara (Tantri Narrative)

Depicts the Tantri narrative

I Dewa Ketut Baru, active -, 46 works

Painted in Batuan - Dated 1963

Cerita Darma Suarmi dan Sunangkara. Adalah seorang pendeta, bernama Sri Yajnya Dharmaswami Ia pergi mencari air suci berkelana dalam hutan dan gunung.Pada waktu itu musim sedang kering, maka ia tidak mendapatkan airsuci.Sang pendeta kepayahan, lalu berhenti.Beliau mendapatkan sebuah sumur.Hati sang resi amat senang. Lalu berpikir dalam hati. Kebetulan sekali ada sumur,lebih baik mandi dulu,untuk mengobati kepanasan. Beliau lalu menurunkan timba,lalu menariknya. Sang Resi amat terkejut melihat,sebab timba itu berisi macan. Yang kedua berisi ular, dan yang ketiga kera. Sang Pendeta berkata halus, Apa sebabnya kamu berada dalam sumur? Kasihan saya melihatmu,sebab kamu semua pucat lesi,dan kurus kering, hampir mati. Yang Ditanya menjawab, kami diterjang angin disertai hujan lebat. Waktu kejadian itu kebetulan tengah malam, dan tak disangka sudah menerjang kami. Kami tak bisa melihat apa-apa.Tak terduga kami sudah masuk dalam sumur.Karena belas kasihan pendeta,kami binatang yang menderita bisa selamat. Apa yang kami pakai untuk membalas kebaikan pendeta. Kami mohon jangan sekali-kali pendeta menurunkan timba lagi, karena berisi manusia yang jahat,dan kotor. Tidak tahu tata krama manusia,tidak usah dikasihani. Sekarang kami mohon diri. Sang pendeta mengangguk,seraya berpikir dalam hati, Apa yang aku harus perbuat sekarang? Binatang kita tolong selamatkan,apa lagi manusia,patut kita selamatkan,sebab ia tahu baik buruk. Kalau kita pikirkan perbuatan sang pendeta sama dengan perbuatan Hyang Surya. Beliau tidak membeda-bedakan menyinari, membikin kebahagian dunia. Sang pendeta akhirnya menurunkan timba itu, dan segera mengangkatna. Timba itu berisi manusia kurus kering,lesu kepayahan. Ia segera menghormat menghaturkan sembah. Hamba abdi sang pendeta,dari Maduradesa. Pekerjaan hamba tukang mas bernama I Swanangkara.Sekarang lanjutkan pertolongan pendeta ,bisa simpang kepondok hamba. Hamba mengharap bisa membalas jasa baik pendeta. Hamba ingin menjadi pengikut sang pendeta. Sang Pendeta menjawab dengan halus, Ya,besok-besok saja, nanti kalau sudah selesai saya melakukan tirtayatra, baru saya simpang kepondokmu. Sang Swanangkara lalu mohon diri,dan segera sampai di rumahnya.
38 cm x 25 cm
ink on paper